Puisi Alma Mater Karya Taufiq Ismail

Puisi Alma Mater Karya Taufiq Ismail
Puisi Alma Mater Karya Taufiq Ismail

Puisi Alma Mater Karya Taufiq Ismail penyair yang dikenal luas sebagai tokoh sastrawan Angkatan ’66 ini lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935 dan dibesarkan di Pekalongan.

Puisi Alma Mater Karya Taufiq Ismail

Alma Mater

Di depan gerbangmu tua pada hari ini

Kami menyilangkan tangan, ke dada kiri

Tegak tengadah menatap menatap bangunanmu

Genteng hitam dan dinding kusam. Berlumut waktu

Untuk kali penghabisan

*

Marilah kita kenangkan tahun-tahun dahulu

Hari-hari kuliah di ruang fisika

Mengantuk pada pagi cericit burung gereja

Praktikum. Padang percobaan. Praktek daerah

Corong anestesi dan kilau skalpel di kamar bedah

Suara-suara menjalar sepanjang gang

Suara pasien yang pertama kali kujamah

*

Di aula ini, aula yang semakin kecil

Kita beragitasi, berpesta, dan berkencan

Melupakan sengitnya ujian, tekanan guru besar

Melepaskannya pada hari-hari perpeloncoan

Pada filem dan musik yang murahan

*

Ya, kita sesekali butuh juga konser yang baik

Drama Sophocles, Chekov atau ‘Jas Panjang Pesanan’

Memperdebatkan politik, Tuhan dan para negarawan

Tentang filsafat, perempuan serta peperangan

Bayang benua abad dahulu lewat abad yang kini

*

Dimanakah kau sekarang berdiri? Di abad ini

Dan bersyukurlah karena lewat gerbangmu tua

Kau telah dilantik jadi warga Republik Berpikir Bebas

Setelah bertahun diuji kesetiaan dan keberanianmu

Dalam berpikir dan menyatakan kebebasan suara hati

Berpijak di tanah air nusantara

Dan menggarap tahun-tahun kemerdekaan

Dengan penuh kecintaan

*

Dan kami bersyukur pada Tuhan

Yang telah melebarkan gerbang tua ini

Dan kami bersyukur pada ibu bapa

Yang sepanjang malam

Selalu berdoa tulus dan terbungkuk membiayai kami

Dorongan kekasih sepenuh hati

Dan kami berhutang pada manusia

Yang telah menjadi guru-guru kami

Yang membayar pajak selama ini

Serta menjaga sepeda-sepeda kami

*

Pada hari ini di depan gerbangmu tua

Kami kenangkan cemara halamanmu dalam bau formalin

*

Mikroskop. Kamar obat. Perpustakaan

Gulungan layar di kampung nelayan

Nyanyi pohon-pohon perkebunan

Angin hijau di padang-padang peternakan

Deru kemarau di padang-padang penggembalaan

Dalam mimpi teknologi, kami kini dipanggil

Untuk menggarap tahun-tahun kemerdekaan

Dan mencintai manusianya

Mencintai kebebasannya.

1963

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*