Puisi Aminah Karya W.S. Rendra

Puisi Aminah Karya W.S. Rendra
Puisi Aminah Karya W.S. Rendra

Puisi Aminah Karya W.S. Rendra  (7 November 1935, Surakarta – 6 August 2009, Depok), widely known as Rendra or W. S. Rendra, was an Indonesian dramatist, poet, activist, performer, actor and director.

Puisi Aminah Karya W.S. Rendra  

Aminah

Adalah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senjakala.

Sawah muda, angin muda

tapi langkahnya sangat gontainya.

*

Sebentar nanti bila kakinya

yang beralas sandal itu

menginjak pelataran rumahnya

tentu hari belum gelap terlalu.

Ibunya yang tua akan menatapnya

dan dua batang kali kecil

akan menjalar dari matanya:

Ia akan berkata antara sedannya

“Ibu, aku pulang”

Dan keduanya akan berpelukan.

*

Maka sementara langit sibuk berdandan

untuk pesta malamnya

dan di udara terdengar sedan kegirangan

yang memancar dari rumah tua,

akan terdengar para tetangga

berbisik antara sesamanya

dan mata mereka bagai kucing

mengintip dari tempat gelap:

“Kampung kita yang tenteram

mulai lagi bermusang.

Ah, ya, betapa malunya!

Telah datang ular yang berbisa!

Jangan dekati ia!”

*

Adalah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senja kala

sambil memandang tanah kelabu

ia bayangkan dengan terang

yang bakal menimpa dirinya.

*

Juga sudah terbayangkan olehnya

salah satu bunda cerita pada putranya:

“Jauhi Aminah!

Kalau bunga, ia bunga bangkai.

Kalau buah, ia buah maja.

Ia adalah ular beludak.

Ia adalah burung malam.

Begini ceritanya:

Dulu ia adalah bunga desa

ia harum bagai mawar 

tapi sombong bagai bunga mentari.

Bila mandi di kali

ia adalah ikan yang indah

tubuhnya menyinarkan cahaya tembaga.

Dan di daratan ia bagai merak

berjalan angkuh dan mengangkat mukanya.

Para pemuda menggadaikan hati untuknya.

Tapi ia kejam dan tak kenal cinta.

Ia banyak dengar dongeng tentang putri bangsawan

lalu ia bayangkan ia putri

lalu ia inginkan kekayaan.

Mimpi meracuninya.

*

Maka pada suatu ketika

seorang lelaki datang dari kota

Ia kenakan jas woleta

dan arloji emas di tangannya

tapi para orang tua sudah tahu

matanya tak bisa dipercaya.

Mulutnya bagai serigala

dengan gigi caya perak dan mutiara.

Kata-katanya manis bagai lagu air

membawa mimpi tak berakhir.

Ketika dikenalnya Aminah

dibujuknya ia ke kota bersamanya

ia bayangkan kekuasaan

ia bayangkan kekayaan

ia bayangkan kehidupan putri bangsawan

dan pergilah Aminah bersamanya.

*

Jadi terbanglah merak ke dunia mimpinya

ia makan mega dan kabut menyapu matanya.

Dan semua orang tua yang cendekia sudah tahu

sejak sebermula sudah salah jalannya.

*

Maka seolah sudah ditenungkan

ketika sepupunya menengoknya ke kota

ia jumpai Aminah jauh dari mimpinya.

Hidup di gang gelap dan lembab

tiada lagi ia bunga tapi cendawan.

Biru pelupuk matanya

mendukung khayal yang lumutan.

Wajahnya bagai topeng yang kaku

kerna perawannya telah dikalahkan.

*

Maka sepupunya meratap pada ibunya:

– “Laknat telah tumpah

di atas kepala pamili kita.

Bunga bangkai telah tumbuh di halaman.

Belukar telah tumbuh antara padi-padian.

Kalau kita minum adalah tuba di air.

Kalau kita makan adalah duri di nasi.

Kerna ada antara pamili kita

telah jadi perempuan jalang!

*

Kini ularnya sudah pulang

dan bisanya sudah terasa di daging kita.

Jangan dekati ia!

Jangan dekati ia!

Ia cantik, tapi ia api!

Di kali ia tetap ikan jelita

tapi telah busuk rahimnya.

Jangan dekati ia!

Jangan dekati ia!”

*

Adalah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senja kala

sambil merasa angin di mukanya

ia bayangkan yang bakal menimpa dirinya.

Ia tahu apa yang bakal dikatakan tetangga

ia tahu apa yang bisa terduga.

Ia tahu tak seorang pun akan berkata:

“Berilah jalan padanya

orang yang naik dari pelimbahan.

Sekali salah ia langkahkan kakinya

dan ia terperangkap bagai ikan dalam bubu.

Berilah jalan pada kambing hitam

kerna ia telah dahaga padang hijau.

Berilah jalan pada semangat hilang

kerna ia telah dahaga sinar terang”

*

Dengan mudah ia bisa putar haluan

tapi air kali hanya kenal satu jalan

dan ia telah mengutuki kejatuhannya

dan ia telah berniat akan bangkit.

Maka ia adalah bunga mentari

maka ia adalah merak yang kukuh hati.

Adalah perempuan jalan di pematang

ketika jatuh senja kala

sambil mengenang yang bakal datang

ia tetap pada jalannya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*